You are here

Duduk, Kurenungi Indonesia.

Siang itu aku lihat dua orang pemuda yang sedang sibuk mengumpulkan beberapa batu, awalnya aku menganggap mereka kurang kerjaan sekali.

Tetapi selang beberapa menit setelah batu terkumpul, mereka menuju kesebuah tiang yg posisinya memang hampir saja tumbang dan roboh. Dan kulihat bendera berwarna MERAH dan PUTIH diatas tiang itu.

Hal ini membuat aku perlahan menaruh minat pada tingkah laku mereka, Kuamati apa yg dilakukan dua pemuda itu. Dan yang aku lihat, ternyata mereka sedang mencoba membuat tiang itu kembali tegak lurus dan berdiri kokoh kembali dengan beberapa batu yang telah dikumpulkan pemuda-pemuda itu.

Duduk, kurenungi kejadian ini. Sontak fikiranku tiba-tiba tertata bijaksana. Kutemukan hikmah dibalik kejadian sederhana itu,”Indonesia perlahan memang telah mulai dirobohkan dan hendak ditumbangkan oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan. Lantas,kemudian keputusan masa depan indonesia, kitalah generasi selanjutnya yg akan menentukan. Apakah kita akan ikut andil dalam penghancuran negara ini atau akan menjadi pondasi yg kuat serta menjadi tembok yang kokoh untuk mempertahankan kedaulatan negara ini”. Entah, tiba-tiba saja fikuran sebijak itu menghampiriku. Padahal aku masih melihat diri ini masih bangsat, serta aku merasa bahwa aku belum berbuat apa-apa kepada bangsa ini.

Hendak kuabaikan saja fikiran tadi, kuanggap saja hanya lintas fikiran konyolku saja, “Ah, dasar fikiran liar si tolol menjadi sok bijak”. Tapi entah, aku benar-benar ingin menghayati kejadia ini dan perihal pikiranku tadi tiba-tiba menjadi rasa nurani yang menyapa inti jiwaku. Karna aku lihat ini benar, melihat keadaan indonesia yang mulai terseok-seok dan teringat kata sahabatku di komentar IG kemarin, bahwa masyarakat indonesia (termasuk aku) mulai kehilangan jati dirinya. Ditambah  adu domba dimana-mana dan hilangnya rasa percaya diri manusianya terhadap kekuatan bangsa ini, apakah bukan mustahil suatu saat nanti negara ini akan kembali jadi sasaran empuk  para penjajah.

Sadarlah aku dari lamunanku, kulihat dua pemuda itu telah selesai dan tiang yg tadinya hampir roboh telah tegak serta bendera merah putih itu kembali berkibar beberapa kali di terpa sepoi angin sekitar.

Dan kudengar lirih suara obrolan yg dibawa angin yang asalnya dari dua pemuda tadi, “Syukurlah, tiang ini telah kembali tegak. Setidaknya kita telah memulai langkah kecil yang sangat sederhana ini, untuk membangun kekuatan negeri kita, yaitu dengan CINTA yang kita buktikan dengan apa yg kita lakukan siang ini rif”.

“Busyet dah lu yor, kalo ngomong sok iya banget. Kaya kita udh ngelakuin hal luar biasa aja :p. Tapi iya sih, setidaknya bagi gua sendiri gua pernah memperbaiki letak bendera yang hampir nyentuh tanah, semoga ini merupakan sesuatu yg dikatakan ‘berguna’ untuk negeri ini. Inilah bentuk penghormatan dan kecintaan gua sama negeri ini, ya meskipun gua sering dikecewain sama negeri gua sendiri, tapi tetep gua ngak peduli. Karena gua cinta negri ini bener-bener tanpa syarat” .

Tambahlah hati ini seakan terbentur dentuman keras yang menggugah kesadaranku karena obrolan dua pemuda yang sedari tadi aku amati.

Akhirnya aku berfikir, “Lantas aku, apa yang telah aku lakukan untuk negeri ini ?”.Dimana gemah ripah loh jinawinya telah aku nikmati,  dan segala hal yang ada didalamnya seringkali aku mamfaatkan tiada henti. Sedang yang aku tau dibeberapa kali hati ini sering membenci serta mendengki atas segala tingkah meningkah yang ada dinegeri ini, bahkan terkadang aku muak dengan negri ini. Tak ayal aku jua sering memperolok betapa nistanya negri ini atas semua hal yg ada didalamnya. Dan telah biasa aku ikut serta dalam hal adu domba untuk memecah belah kesatuan dari kebhinekaan negeri ini.

“Hhmmbbb. .. .huu,” kutarik nafas dan aku hembuskan. Mengingat-ingat kembali tingkahku yang pernah aku perbuat untuk negri ini. Ternyata jarang bahkan tak aku temukan sedikitpun. Meskipun ada, harus aku akui, tindakan itu bukan untuk negriku, tapi hanya untuk kepentinganku atau golonganku.

“Indonesia, maafkan aku” guman dalam hati. Akhirnya aku bangun dari dudukku. Niat hati kuhampiri dua pemuda itu, untuk berbincang,”Perihal apa selanjutnya yg akan kita lakukan untuk negeriku”.

*kemudian lelaki itu berdiri, dan Dengan senyum sumringah kedua pemuda itu menyambutnya. dan bertanya, “kawan mau selfie disini ?, oh ya, silahkan” 🙂

Selesailah cerita ini :)*

#ghi
#hatiSelembutPuisi

arialghifari
arialghifari
Penilmat kopi, buku dan rindu. "mereka yang selalu kisruh dan gaduh, adalah mereka yang jarang atau tidak sama sekali pernah ngopi dan baca buku".
http://arighi.heck.in
Top